Meratapi pagi di tangan penjual nasi
Meliuk, memutar dan memekar
Matanya sayu si adik itu
Depan pintu pojok jalan yang buntu
Anak matanya terlihat rakus
Namun badannya krempeng kurus
Bibirnya seperti bunga di padang tandus
"Lapar... Haus..." Lirihnya
Namun mereka tak peduli dengannya
Hanya si ibu penjual nasi
Yang mliriknya dan melayani pembeli
Anak itu mencoba berlari
Namun tak cukup ahli
Tuk hanya mencoba berdiri
Menuju tempat penjual nasi
"Berikan aku karet gelang." Kata anak itu.
Si penjual itu tak keberatan
Ia pun memberinya dengan perlahan
Si ibu penjual penasaran, "Untuk apa itu?"
Lalu katanya, "Untuk membungkus nasimu."
7/10/2024

Komentar
Posting Komentar