Langsung ke konten utama

Karet Gelang (puisi)


 Meratapi pagi di tangan penjual nasi

Meliuk, memutar dan memekar

Matanya sayu si adik itu

Depan pintu pojok jalan yang buntu

Anak matanya terlihat rakus

Namun badannya krempeng kurus

Bibirnya seperti bunga di padang tandus

"Lapar... Haus..." Lirihnya 

Namun mereka tak peduli dengannya 

Hanya si ibu penjual nasi

Yang mliriknya dan melayani pembeli 

Anak itu mencoba berlari 

Namun tak cukup ahli

Tuk hanya mencoba berdiri

Menuju tempat penjual nasi

"Berikan aku karet gelang." Kata anak itu.

Si penjual itu tak keberatan 

Ia pun memberinya dengan perlahan

Si ibu penjual penasaran, "Untuk apa itu?" 

Lalu katanya, "Untuk membungkus nasimu."



7/10/2024





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keteladanan Kiai Hasyim Asy'ari dalam Kerendahan Hati dan Keikhlasan

 Pada masa itu, tepatnya setiap bulan Sya'ban, para guru dan kiai sepuh memiliki tradisi pergi ke Jawa untuk menimba ilmu kembali. Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari membuka pengajian khusus bagi mereka yang ingin memperdalam ilmu hadis. Namun, pada Sya’ban tahun 1933, terjadi peristiwa luar biasa yang sulit dilupakan: salah satu guru beliau sendiri ternyata ikut hadir dalam majelis ta'lim yang beliau adakan. Dalam percakapan antara Kiai Hasyim dan gurunya tersebut, terlihat begitu dalam sifat rendah hati keduanya. Salah satunya berkata, “Saya ini murid Anda,” sementara yang lain menjawab, “Anda sekarang adalah guru saya.” Saling merendahkan diri inilah yang menjadi teladan bagi kita semua. Meskipun sang guru secara usia dan pengalaman lebih tua, tetapi beliau tetap datang sebagai murid, dan Kiai Hasyim tetap memuliakannya sebagai guru. Bentuk penghormatan itu tidak berhenti di situ. Kiai Hasyim menyediakan sebuah rumah yang telah dibersihkan untuk sang guru beristirahat. Bahkan ...

Refleksi Hingga implikasi atas peran manusia sebagai Khalifah di bumi

https://perpus.tebuireng.ac.id/2024/11/30/refleksi-hingga-implikasi-atas-peran-manusia-sebagai-khalifah-di-bumi/ Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an. Allah telah memberikan manusia potensi akal, jasmani, dan rohani yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Kesempurnaan ini bukan tanpa tujuan. Allah berfirman dalam Surah Az-Dzariyat ayat 56: وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku Firman ini menegaskan bahwa tujuan utama penciptaan manusia adalah beribadah kepada Allah. Namun, apa makna ibadah itu sendiri? Lebih dari sekadar ritual, ibadah mencakup setiap niat dan perbuatan yang dirancang untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Dalam menjalani kehidupan, manusia juga diberi amanah sebagai khalifah di bumi, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 30: وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً...