Desember pagi itu langit tak tampak ceria, mendung berbaris menghadang cahaya, mentari pun malas-malas menunjukan dirinya. Setelah menjalani aktivitas di pagi-pagi buta, aku beranjak dari mushalla menuju kamar mengambil peralatan mandi. Sebenarnya lebih nyaman merebahkan diri sebentar, kemudian pergi mandi. Tapi pagi itu aku mempunyai janji untuk menjemput temanku di stasiun kota. Aku berangkat menggunakan sepeda motor menembus embun sejuk sisa-sisa hujan tadi malam. Suara knalpotku memecah konsentrasi para petani yang sedang tandur, membuat mereka berpaling melihatku. Di suatu hari saat malam ied fitri, aku pergi ke kota karena ada keperluan, dengan suara knalpot yang tidak karuan—atau biasa disebut knalpot brong—di waktu yang sama terdapat sekelompok polisi yang sedang beroperasi. Saat itu pun kejar-kejaran antara aku dan polisi tak terelakan. Namun, saat pagi itu aku memilih jalan tikus untuk pergi ke stasiun, sehingga aku pun bisa dengan santai dalam perjalanan. Aku pun sampai pada muka stasiun, di depan gerbang yang sudah banyak karatnya aku menengok-nengok mencari temanku. Terlihat bapak-bapak pembecak menunggu mangsanya yang berhamburan keluar dari perut kereta untuk dibawanya pergi entah kemana. Namun, kebanyakan sekarang pembecak sepi peminatnya, dikarenakan ojek online lebih murah dan praktis, entah bagaimana nantinya bapak-bapak pembecak menafkahi keluarganya. Aku pun terkadang sempat berpikir tapi siapalah aku jika menemukan solusi, toh sampai sekarang mereka masih hidup dengan senyumnya—meskipun begitu aku tak tahu apakah senyum itu murni dari hatinya atau agar orang-orang mau menaiki becaknya. Ada juga di sana ibu-ibu menggendong anaknya yang mungil, anak itu terlihat memakai kompres demam di jidatnya. Dalam hatiku di mana bapaknya? Kenapa keluarganya setega itu membiarkan mereka begitu saja? Mungkin pikirku ini tampak sia-sia meskipun aku tahu kondisi mereka berdua. Dan jelas hal tersebut memang sia-sia di saat dari kejauhan tampak lambaian tangan tangan temanku, senyum bahagianya yang sangat lebar itu tumpah kepadaku hingga aku pun seketika lupa dengan kejadian tadi. Namanya Salam, anak jurusan filsafat di Harvard University, universitas elit swasta di luar negeri tepatnya di negara Amerika Serikat. Sekarang ia duduk di semester 7 persis denganku sekarang. Ia dulunya teman masa kecilku, namun semenjak lulus sekolah ibtidaiyah aku memutuskan untuk pergi melanjutkan pendidikan di pesantren yang tak jauh dari kotaku berasal. Sedangkan Salam—temanku itu—memutuskan untuk menempuh pendidikan SMP hingga SMA di sekolah negeri yang masih bertempat di dalam kota. Aku mengeluh saat itu, mengapa anak secerdas dia malah sekolah di sekolahan umum, bukan malah ke pesantren. Karena mungkin aku pada saat itu memiliki stereotip (pandangan yang bersifat subjektif terhadap suatu hal) terhadap seseorang yang menempuh pendidikan di sekolahan umum, tentang bagaimana sistem pendidikan yang menurutku begitu-begitu saja—maksudku sebatas pandangan dan pengetahuan pendekku saat itu. Setelah sampai di kos yang telah Salam pesan sebelumnya, kami mulai berbincang saling bertanya kondisi masing-masing. Kosnya terletak tidak jauh dari asrama kampusku berada, karena sebelumnya Salam berpesan kepadaku agar tidak bertempat di kos yang jauh dari tempat asrama kampusku, supaya nantinya mempermudah kami bertemu katanya. Pada cutiku kali ini aku memang sengaja tidak pulang ke rumah karena ada keperluan yang harus aku lakukan di sana, yaitu melanjutkan penelitian skripsiku yang sedikit lagi usai. Begitupun Salam, meskipun jarak rumah kami hanya berkisar satu jam untuk menempuhnya, namun juga karena keharusan tersendiri yang menuntutnya memilih untuk tinggal di kosan dekat kampusku. Aku sebenarnya penasaran kepada Salam sebelumnya, mengapa ia tiba-tiba menelpon kemudian memintaku agar mencarikan kos yang dekat dari kampusku. Di tengah obrolan ringan kami, aku pun mulai bertanya tujuan sebenarnya si Salam anak jurusan filsafat tersebut. Dengan ekspresi yang sedikit tersenyum spontan ia menjawab rasa yang mengganjal hatiku selama ini.
“Asal kamu tahu ya Dul, kalau bukan karena kebutuhan penelitian skripsiku, aku mungkin lebih memilih tinggal di rumah dan berlibur bersama keluarga daripada di sini menemanimu, apalagi overthinkingku seketika bertambah saat melihat wajahmu itu.” Kami pun seketika tertawa saat itu, sejenak menghilangkan raut wajah penuh beban masing-masing.
“Ya ampun Lam…Lam, bilang dong dari kemarin biar sekalian aku sewain badut buat nyambut kamu.” Sore itu pun kami saling melemparkan lelucon, hingga suara kendaraan di luar tak lebih ramai ketimbang tawa kami.
“Ehh… jangan Dul, mending kamu aja deh yang jadi badutnya. Soalnya badut sekarang udah punya pekerjaan baru.” Aku pun penasaran,
“Kenapa harus aku? Lalu apaan Lam maksudnya badut punya pekerjaan baru?” Aku masih sejenak berpikir.
“Iya beneran… Bedanya kalau kamu jadi badut, aku akan terhibur dan tertawa, sedangkan kalau seorang presiden yang jadi badut…” Salam sengaja memanjangkan intonasinya agar aku menyambung kalimatnya,
Aku menelan ludah kemudian melanjutkan kalimatnya,”rakyatnya tertawa.”
“Yupss…” Salam menimpali.
“Wah, ngawur kamu kalau bercanda.” Kemudian aku menegurnya, setelah itu.
“Lah kamu yang bilang gitu…hehe.”
“hsst… Uda lah.” Aku menempelkan telunjukku di mulut.
Setelah obrolan panjang, Salam sebenarnya ingin meneliti dari mengapa islam sangat tradisionalis menurut sebagian orientalis, hingga bagaimana keilmuan di dalam islam masih terjaga dari zaman ke zaman. Ia tidak puas dengan paparan argumen yang telah aku sebutkan dengan menggunakan dalil naqli. Karena katanya, sevalid apapun sebuah data, jika diakui oleh sepihak saja maka kebenaran data tersebut masihlah bermuara hanya kepada siapa yang mengakuinya. Oleh karenya, ia meminta kepadaku agar tidak melulu menggunakan bukti dan pemikiran yang diakui kebenarannya hanya dalam prespektif islam saja. Baiklah kataku dalam hati.
“Kita mulai dari mana?” Tanyaku.
“Islam adalah agama yang kaku dan banyak aturan yang membelenggu, sehingga kebebasan pemeluknya menjadi terbatas. Maka terbentuklah konklusi bahwa pemeluk agama islam adalah sekumpulan orang-orang yang tertinggal zaman dan masih dengan keras kepala menjaga tradisi-tradisi zaman dahulu yang kini tidak relevan lagi. Oke, sekarang apa pendapatmu?” Sorot matanya tajam memperhatikanku.
“Baiklah kalau begitu, aku akan menjawabnya dengan perlahan. Namun sebelum itu perkenankan saya bertanya terlebih dahulu kepada anda,”
“Iya silahkan.”
“Kebenaran yang bagaimana kaum orientalis pegang? Apakah relativis sebagai pondasi pemikiran mereka di luar sana?”
“Oke, tidak sepenuhnya pandangan terhadap islam orientalis mengadopsi pandangan relativis. Dari pernyataanku awal tadi, itu lebih kepada pandangan yang kritis.”
“Ajaran islam dirancang untuk flesibel melalui mekanisme seperti ijtihad (penalaran hukum) dan qiyas (analogi), yang itu nantinya memungkinkan adaptasi terhadap perubahan zaman tanpa meninggalkan prinsip inti. Contoh gampangnya, adalah perbankan syariah—menerapkan syariah dalam cara yang sesuai dengan konteks konteporer. Jadi islam pun juga mampu mengimbangi modernitas zaman, namun tanpa meninggalkan syariat yang telah diajarkan.”
“Lantas, bagaimana modernitas terhadap busana orang-orang muslim? Mereka benar-benar sampai saat ini masih tetap mengikuti adat pakaian yang menutupi ini-itu, yang katanya agar tidak mengundang syahwat?”
“Itu hanyalah eurocontrisme—Cuma pandangan orientalis yang condong terhadap peradapan barat, hal ini tidak bisa dibenarkan kedua belah pihak karena terdapat subjektivitas dari pandangan tersebut. Tidak ada klaim yang begitu objektif terhadap bagaimana busana bisa dinilai modern atau tidak, yah meskipun ada pun klaim tersebut masih mengadopsi kebudayaan barat dan nilai yang diciptakan sejatinya berasal dari produk sebuah kelompok atau mungkin individu.” Aku pun mengembuskan napas.
“Baiklah aku catat argumenmu barusan. Tapi bagaimana dan mengapa Islam menjaga keilmuannya dari zaman dahulu?” Hening sejenak.
Hari sudah semakin gelap, langit yang tadinya kebiru-biruan seperti warna laut sekarang sedikit demi sedikit senja melukisnya dengan warna jingga. Angin pun tak ingin kalah, ditiupnya dedaunan padi seolah mirip seseorang yang tampil menari di pentas seni. Sedangkan diskusi kami masih belum usai, namun raibnya senja menunjukan sore tak mungkin lama-lama lagi. Sepertinya diskusi kami akan dilanjtkan lagi nanti.
“Sebentar Lam, sudah mau maghrib nih… Baiknya kita lanjutkan nanti lagi gimana?” Aku mencoba menawarkan.
“Yaudah kalau gitu, kita lanjutkan diskusi kita habis isya nanti.”
“Di mana?” Tanyaku.
“Emm… di mana yah?” Salam menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Aku mengacungkan jari seakan mengetahui sesuatu, “Bagaimana kalau di café kuyaka?”
“Dimana itu?” Katanya penasaran.
“Ada kok, nanti aku kabarin.”
Aku mulai menyalakan mesin motor perlahan pergi dari kosan dengan knalpotku yang suaranya membuat tiap orang saat melihatku pun menoleh.
Aku mengirim pesan kepada Salam agar datang ke tempat yang aku maksud tadi. Kuyaka merupakan café mewah ala-ala jawa dengan menyuguhkan produk yang memiliki harga terjangkau, yang pastinya banyak dikenali bahkan digemari oleh kalangan mahasiswa karena identik dengan rasa kopi-susunya yang sangat khas. Aku sudah datang dahulu di sana, malam itu lumayan ramai. Di tempat bagian kanan sudah ramai apalagi beranda, telah dipenuhi oleh mahasiswa yang sibuk dengan wajah mereka yang menyala sebab cahaya layar laptopnya masing-masing. Aku langsung memesan dua gelas kopi-susu, satu untukku dan satu lagi untuk Salam. Setelah memesan, aku beranjak menuju tempat yang sebelah kiri, di sana terdapat sejumlah gazebo yang telah didesain estetik. Gelap yang diselimuti angin malam yang perlahan meniup anak rambutku, aku memandang langit-langit yang dipenuhi lampu dengan pencahayaan retro, mampu menciptakan suasana yang syahdu. Tampak dari kejauhan motor yang kendarai Salam sedang parkir. Sehari setelah kedangannya di Indonesia, Salam pulang ke rumahnya untuk menengok orang tua dan keluarga, ia menginap di sana selama tiga hari lalu setelah itu ia kembali menuju kosan dengan sekalian membawa motor customnya—yang bermodel bratcafe—yang dikendarainya sekarang.
“Oii… Salam!” Teriakku.
Salam menoleh ke arahku menaruh helmnya yang masih terpakai di kepalanya. Ia berjalan santai menuju gazebo tempatku berada. Ia duduk merebahkan punggungnya pada tiang bambu gazebo, menghela napas sejenak sambil mengeluarkan laptop dari tasnya.
“Dul… ayo buruan lanjutin diskusi kita tadi.” Salam merengutkan jidatnya tidak sabaran.
“Iya ya… Sabar dulu bentar.”
Tampak barista datang dengan nampan di tangan kirinya yang seolah menempel, di atasnya ada dua buah gelas berisi kopi-susu yang mengepul asapnya.
“Silahkan…” Barista itu menaruh minumannya dengan anggukan dan sennyum yang ramah.
Sementara itu kami mengambil gelas masing-masing dan perlahan mennyeruput kopi yang sudah kami tuangkan di atas lapik. Asapnya mengepul di udara, menguar bercampur dengan udara sejuk yang aku hirup bersamaan.
“Baiklah langsung saja,” Kataku.
Aku melanjutkan, “Jadi gini, mengapa islam masih bisa merawat keilmuan hingga zaman ini, padahal keilmuan tersebut sudah terlampau berabad-abad jauhnya? Simpel saja, karena islam mempunyai metode yang dinamakan “sanad” dalam mengajarkan keilmuannya.”
“Memang kenapa harus ada sanad, seseorang kan mampu mempelajari dan memperbanyak refrensi untuk memahami suatu hal tentang disiplin ilmu.” Tegasnya.
“Eits… Jangan salah Lam, kalau tanpa adanya sanad yang jelas sebuah ilmu itu tidak akan diakui kebenarannya. Dan ini sudah pasti, semua orang tahu mengenai itu, karena hanya orang-orang terpilihlah yang dapat menyampaikan keilmuan itu, sehingga untuk menjadi seseorang yang mempunyai kategori guru itu sebenarnya agak sulit. Mengapa harus bersanad? Ya karena agar keotentikan dan orisinilitas disiplin sebuah ilmu akan selalu terjaga, tidak ada pengaruh pemikiran yang merubah isinya. Makanya tadi, memilih guru juga sama pentingnya dengan wajibnya seseorang memiliki sanad yang jelas,” aku bernapas sebentar, lalu menyeruput kopiku yang sudah suam-suam kuku, “tak berhenti di sana, sebenarnya pemerintah kita membuat inovasi bagi para mahasiswa yang ingin mendalami secara khusus keilmuan islam.”
Salam berkonsentrasi penuh menyimak dan mencatat di laptopnya semua yang kukatakan barusan.
Aku melanjutkan, “seperti dibangunnya Mahad Aly sebagai pusat akademisi yang yang menekuni disiplin ilmu tertentu, ada banyak Mahad Aly di Indonesia, ada yang berfokus pada ilmu fikih, ilmu Al Quran, atau ilmu hadis, dan salah satunya adalah Mahad Aly yang aku menimba ilmu di sana, di sana fokusya adalah mengkaji secara mendalam bidang Hadis dan Keilmuannya. Ini menurutku adalah bentuk bagaimana pemerintah di negara kita sangat menjaga keutuhan ajaran yang yang dibawa oleh Rasulullah SAW.”
“Oh… Begitu ya ternyata, pandanganku juga kini menjadi lebih terbuka terhadap islam itu sendiri ketimbang sebelumnya, aku juga telah banyak mencatat banyak yang selama ini belum aku ketahui. Emang benar ya, hal-hal yang bisa membuat kita open mindet terkadang bukan kita temukan di tumpukan buku perpustakaan, namun juga terkadang bisa kita temukan dalam diskusi seperti kita kali ini. Yang pastinya dengan rokok dan kopi ya Dul?” Sembari meletakkan rokok di mulutnya Salam tertawa.
“Iya SETUJU… hehe.” Kami pun larut dengan tawa di bawah langit yang indah dengan bintangnya.

Komentar
Posting Komentar