Langsung ke konten utama

Tangga (Puisi)


Menuding hari-hari yang lewat dengan hanya bisu

Memberikan titah kebebasan atau hanya satu pilihan

Satu kau pilih nafsu atau selamanya terbelenggu

Hati itu tak tau memilih jalannya

Sang manusia  kau mau berbuat apa?


Hanya tangga untuk dinaiki yang sekarang kau buang

Hanya langkah tak sepadan  yang malu kau tunjukan

Apakah petani menilai padi dilihat dari biji?

Apakah Tuhanmu tak mengajarkan bagaimana cara berdiri?

Kau  hanyalah seonggok durjana yang mengaku mulia


Seolah tau segalanya padahal secuil pun kau tak punya

Menyatakan hanya bermodal pikiran yang menyesatkan

Akan sebagai apa manusia tanpa tangga?

Sebatas makhluk kasat mata yang tak sadar salahnya

Kau hanya membutuhkan tangga wahai manusia


Untuk menuju batas waktu yang melampauimu

Agar kau menyeberangi tau yang sebenarnya tak kau tau

Supaya kau menyadari keterbatasanmu

Dan langkahmu biar tak menuju jalan yang buntu

Aku tau kau butuh tangga sebagai tuju

Agar ia mengajakmu menuju detik demi masa dan waktu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keteladanan Kiai Hasyim Asy'ari dalam Kerendahan Hati dan Keikhlasan

 Pada masa itu, tepatnya setiap bulan Sya'ban, para guru dan kiai sepuh memiliki tradisi pergi ke Jawa untuk menimba ilmu kembali. Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari membuka pengajian khusus bagi mereka yang ingin memperdalam ilmu hadis. Namun, pada Sya’ban tahun 1933, terjadi peristiwa luar biasa yang sulit dilupakan: salah satu guru beliau sendiri ternyata ikut hadir dalam majelis ta'lim yang beliau adakan. Dalam percakapan antara Kiai Hasyim dan gurunya tersebut, terlihat begitu dalam sifat rendah hati keduanya. Salah satunya berkata, “Saya ini murid Anda,” sementara yang lain menjawab, “Anda sekarang adalah guru saya.” Saling merendahkan diri inilah yang menjadi teladan bagi kita semua. Meskipun sang guru secara usia dan pengalaman lebih tua, tetapi beliau tetap datang sebagai murid, dan Kiai Hasyim tetap memuliakannya sebagai guru. Bentuk penghormatan itu tidak berhenti di situ. Kiai Hasyim menyediakan sebuah rumah yang telah dibersihkan untuk sang guru beristirahat. Bahkan ...

Refleksi Hingga implikasi atas peran manusia sebagai Khalifah di bumi

https://perpus.tebuireng.ac.id/2024/11/30/refleksi-hingga-implikasi-atas-peran-manusia-sebagai-khalifah-di-bumi/ Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an. Allah telah memberikan manusia potensi akal, jasmani, dan rohani yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Kesempurnaan ini bukan tanpa tujuan. Allah berfirman dalam Surah Az-Dzariyat ayat 56: وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku Firman ini menegaskan bahwa tujuan utama penciptaan manusia adalah beribadah kepada Allah. Namun, apa makna ibadah itu sendiri? Lebih dari sekadar ritual, ibadah mencakup setiap niat dan perbuatan yang dirancang untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Dalam menjalani kehidupan, manusia juga diberi amanah sebagai khalifah di bumi, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 30: وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً...

Karet Gelang (puisi)

 Meratapi pagi di tangan penjual nasi Meliuk, memutar dan memekar Matanya sayu si adik itu Depan pintu pojok jalan yang buntu Anak matanya terlihat rakus Namun badannya krempeng kurus Bibirnya seperti bunga di padang tandus "Lapar... Haus..." Lirihnya  Namun mereka tak peduli dengannya  Hanya si ibu penjual nasi Yang mliriknya dan melayani pembeli  Anak itu mencoba berlari  Namun tak cukup ahli Tuk hanya mencoba berdiri Menuju tempat penjual nasi "Berikan aku karet gelang." Kata anak itu. Si penjual itu tak keberatan  Ia pun memberinya dengan perlahan Si ibu penjual penasaran, "Untuk apa itu?"  Lalu katanya, "Untuk membungkus nasimu." 7/10/2024