Langsung ke konten utama

Pengajian Hikam oleh KH. Abdul Jabbar Hubbi


جل ربنا  أن يعامله العبد نقدا

Maha agung Tuhan kita ketika seorang hamba beramal secara langsung (segera) pembalasannya akan di tunda di kemudian hari 


Adakalanya amal itu dibalas di dunia juga ada yang dibalas di akhirat. Ibadah itu tidak bisa dikategorikan sebagai amal yang bisa diperoleh balasannya di dunia. Amal yang kita lakukan itu pasti mendapat balasan. Tapi itu tadi, Allah akan membalasnya secara langsung dan ada yang tidak langsung.

Berdoa itu tidak jauh seperti seseorang yang mengamen. Kalau mengamennya tidak enak (suaranya dll), ya memang benar langsung dikasih uang agar ia cepet-cepet pergi dari situ. Namun sebaliknya, jika mengamennya enak bahkan kadangkala ia malah disuruh sekali lagi bernyanyi dan didengarkan, maksudnya karena si pendengar merasa nyaman dan enak ketika mendengar pengamen tersebut bernyanyi. Oleh karenanya, jangan sekali-kali suudzon terhadap Allah, mungkin barangkali Allah akan memberikan berkali lipat apa yang kita minta di akhirat nanti. Lalu jika sudah dikabulkan apa yang dimintanya, seperti balasan dzohir jangan bangga dan bahagia dulu. Ada dua pemberian dzohir: 

-Hawaijuddunya

ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزقه من حيث لا يحتسب

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan memberikan jalan keluar dan Allah akan memberikan rezeki dari arah yang tak diduga-duga.

-Dijadikan oleh Allah sebagai ahli ibadah

Ketika Allah sudah menolong pasti akan terlaksana. Soalnya banyak orang ingin melakukan kebaikan ini-itu tapi pada akhirnya cuma keinginan saja tidak terlaksana sama sekali. Juga terkadang karena menunggu waktu yang pas jadinya tidak keturutan. Sehingga seseorang harus melakukan kebaikan tanpa adanya tundaan, meskipun karena alasan kebaikan.


"Termasuk tanda-tanda kebodohan yaitu ketika engkau ingin melakukan suatu kebaikan tetapi engkau menunggu kebaikan yang lain"

"Keinginan hanyalah keinginan yang takkan terwujud menjadi kenyataan, jika Allah tidak memberikan ma'unah kepada kita."

"Jangan mempersempit Rahmat Allah dengan sempitnya pemikiran kita." 

Kemudian selanjutnya ada balasan Allah yang berupa batin. Yaitu,

-Diberikan ketentraman oleh Allah di segala kondisi

Ketentraman kita seringkali dikondisikan oleh suatu keadaan tertentu. Seperti menunggu mempunyai mobillah, kayalah, dsb.

"Bukan mencari ketentraman tapi menciptakan ketentraman, bukan mencari kebahagiaan tapi menciptakan kebahagiaan"

Itulah balasan Allah yang tak terhingga yang seringkali kita rasakan. Yang di dalam Al-Quran disebutkan لا خوف عليهم و لا هم يحزنون.

Kadangkala kita masih ada takutnya, khawatirnya pada keadaan tertentu seperti takut dibegal saat sendiri di jalan sepi dan macam-macam. Juga terkadang masih ada susahnya, sedihnya, maupun tentram. Lalu ada suatu saat guru beliau bercanda "Masa sampean gak bisa seperti anak TK 'di sini senang di sana senang, di mana-mana hatiku senang'".

"Tidak ada tempat untuk mencari ketenangan dan kedamaian kecuali engkau menciptakannya sendiri"


-Al mawahib Al Ilahiyah

Seperti halnya futuh, dsb. 

Kata kiai Jamal "lek Sinau gausah ngoyo² sing penting wocoen ping telu, lek gusti Allah karep awakmu dikei paham awakmu bakal paham". Intinya gini kata beliau, meskipun sekeras apapun kita belajar jika Allah tidak menghendaki kita paham, ya tidak akan paham. Namun, itu semua tetap dilakukan dengan upaya dan usaha.

-Ilham Al laduniyah

Gusti Allah kalau sudah memberikan laduniyah seseorang tersebut tidak akan menganggap apapun yang sudah diciptakan di dunia ini tidak bermakna. ربّنا خلقت ما هذا باطلا Ya Tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia.

-Halawatul Ibadah 

Karena Allah telah memberikan kenikmatan ibadah di hatinya. Ketika seseorang telah mencintai, meskipun dalam waktu yang lama, maka saat bertemu akan terasa singkat. Hal tersebut bisa terjadi karena dilandasi rasa cinta tadi. Begitupun sebaliknya, ketika seseorang bertemu dengan orang yang dibenci, meskipun dalam waktu yang singkat, maka ia akan terburu-buru pergi.


"Hendaknya kalian selalu bersama dengan orang yang selalu bersama-sama dengan Allah."

Memang benar jika diingat-ingat kembali pesan beliau seperti yang ada di syair "Tombo Ati" yang salah satunya di sana berbunyi wong kang Sholeh kumpulono. Yakni dengan kita membersamai para ulama dan ahli ilmu, niscaya kehidupan kita sedikit tidaknya seolah mendapatkan lentera pada malam yang gelap gulita.


23 Desember 2024

Kala pengajian Hikam di Masjid Damai Al Muhibbin 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keteladanan Kiai Hasyim Asy'ari dalam Kerendahan Hati dan Keikhlasan

 Pada masa itu, tepatnya setiap bulan Sya'ban, para guru dan kiai sepuh memiliki tradisi pergi ke Jawa untuk menimba ilmu kembali. Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari membuka pengajian khusus bagi mereka yang ingin memperdalam ilmu hadis. Namun, pada Sya’ban tahun 1933, terjadi peristiwa luar biasa yang sulit dilupakan: salah satu guru beliau sendiri ternyata ikut hadir dalam majelis ta'lim yang beliau adakan. Dalam percakapan antara Kiai Hasyim dan gurunya tersebut, terlihat begitu dalam sifat rendah hati keduanya. Salah satunya berkata, “Saya ini murid Anda,” sementara yang lain menjawab, “Anda sekarang adalah guru saya.” Saling merendahkan diri inilah yang menjadi teladan bagi kita semua. Meskipun sang guru secara usia dan pengalaman lebih tua, tetapi beliau tetap datang sebagai murid, dan Kiai Hasyim tetap memuliakannya sebagai guru. Bentuk penghormatan itu tidak berhenti di situ. Kiai Hasyim menyediakan sebuah rumah yang telah dibersihkan untuk sang guru beristirahat. Bahkan ...

Refleksi Hingga implikasi atas peran manusia sebagai Khalifah di bumi

https://perpus.tebuireng.ac.id/2024/11/30/refleksi-hingga-implikasi-atas-peran-manusia-sebagai-khalifah-di-bumi/ Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an. Allah telah memberikan manusia potensi akal, jasmani, dan rohani yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Kesempurnaan ini bukan tanpa tujuan. Allah berfirman dalam Surah Az-Dzariyat ayat 56: وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku Firman ini menegaskan bahwa tujuan utama penciptaan manusia adalah beribadah kepada Allah. Namun, apa makna ibadah itu sendiri? Lebih dari sekadar ritual, ibadah mencakup setiap niat dan perbuatan yang dirancang untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Dalam menjalani kehidupan, manusia juga diberi amanah sebagai khalifah di bumi, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 30: وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً...

Karet Gelang (puisi)

 Meratapi pagi di tangan penjual nasi Meliuk, memutar dan memekar Matanya sayu si adik itu Depan pintu pojok jalan yang buntu Anak matanya terlihat rakus Namun badannya krempeng kurus Bibirnya seperti bunga di padang tandus "Lapar... Haus..." Lirihnya  Namun mereka tak peduli dengannya  Hanya si ibu penjual nasi Yang mliriknya dan melayani pembeli  Anak itu mencoba berlari  Namun tak cukup ahli Tuk hanya mencoba berdiri Menuju tempat penjual nasi "Berikan aku karet gelang." Kata anak itu. Si penjual itu tak keberatan  Ia pun memberinya dengan perlahan Si ibu penjual penasaran, "Untuk apa itu?"  Lalu katanya, "Untuk membungkus nasimu." 7/10/2024